May
08
Filed Under (Catatan) by Imam on 08-05-2008

berdoa1.jpgSahabat-sahabat.

Tiap manusia dalam hidup ini pasti punya masalah. Untuk menghadapi masalah-masalah hidup ini, Allah dalam surat Al–Fathihah, berkata: “Kepada Engkaulah kami mengabdi dan kepada Engkaulah kami minta tolong“. Permintaan tolong kepada-Nya inilah yang terangkum dalam doa. Dengan doa ini Allah Swt berharap seorang hamba terbiasa untuk menggantungkan urusan kepada-Nya semata.

Demikian pentingnya urusan berdoa ini, sampai-sampai  Allah Swt berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu“.(QS Al-Mukmin:60)

Namun banyak orang terus menerus meminta, tanpa mengerti berbuat apa. Beberapa malah kecewa, karena merasa doanya tidak dikabulkan oleh Allah Swt. Marilah kita coba lihat ayat berikut:

“Aku mengabulkan mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia  berdoa kepadaku maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah :186)


Dari ayat diatas dijelaskan bahwa ada peryaratan sebuah doa dikabulkan adalah “hendaklah memenuhi perintah Allah dan beriman kepadaNya”. Artinya, agar doa-doa kita dikabulkan oleh Allah Swt, maka penting bagi kita untuk menyelarasi amal kita dengan perbuatan-perbuatan yang disukai oleh Allah.

“Dan mintalah pertolongan kepada Tuhanmu dengan sabar dan shalat.” (QS Al-Baqarah [2]: 45)

Sabda Nabi saw: “Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian shalat dua rakaat (Shalat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat” ( HR.Ahmad ).

Ayat diatas menegaskan bahwa menyelarasi doa adalah dengan kesabaran dan shalat. Shalat adalah sebuah amal yang disukai oleh Allah.  Dalam sisi pandang lain, kita juga mesti melihat bahwa shalat ini adalah wujud pengorbanan. Dalam hadits di atas juga dieksplisitkan oleh Rasulullah Saw bahwa jika ada keperluan (hajat) maka lakukan pengorbanan dengan shalat dua rakaat yang sempurna, lalu berdoa.

Kalaulah kita mau analogkan dengan interaksi manusia, seorang Ibu yang dimintai oleh anaknya ’sepatu baru’, tentu dengan gembira akan membelikan sepatu baru buat anaknya, jika si anak membarengi permintaannya dengan kerajinan. Misalnya si anak mengikuti dengan rajin menyapu dan membersihkan rumah, mencuci dan lainnya. Namun kalaulah si anak hanya memborbardir si Ibu dengan meminta ’sepatu baru’ berulang-ulang tanpa menyelarasi dengan kerajian dan pengertian, pastilah si Ibu akan jengah dan bosan. Inilah yang harus kita pahami.

Pengorbanan kepada Allah Swt untuk menyelarasi doa kita dapat berwujud shalat, dapat pula berwujud puasa, shadaqah, berbuat baik kepada orang lain, dan sebagainya.

Ada sebuah kisah yang mungkin relevan dengan bahasan di atas. Ada seorang teman, ia sudah menikah 11 tahun, namun belum memiliki anak. Setiap ia berjalan dan bertemu dengan orang yang ‘mengenaskan’, ia mengeluarkan uang. Sambil memberikan sedekah, ia selalu berkata: “Bu, tolong doakan ya agar saya segera punya anak”. Hal ini dilakukannya berulang-ulang, berbulan-bulan. Alhamdulillah tidak lama kemudian Allah Swt mengizinkan istrinya hamil, dan kemudian ia memiliki anak.

Karena itu Rasulullah Saw berkata: “Bersegeralah sedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah“. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Obatilah penyakitmu dengan sedekah“.

Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Apabila seorang muslim berdoa dan tidak memohon suatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan diakabulkan oleh Allah salah satu dari tiga ; Akan dikabulkan doanya atau ditunda untuk simpanan di akhirat atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”.[Musnad Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478].

Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Tidaklah seorang muslim di atas bumi ini berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a melainkan do’anya tersebut akan dikabulkannya, atau dihindarkan orang  itu dari bahaya sebanding dengan apa yang dimintanya, selama do’a itu tidak mengandung dosa  atau bermaksud hendak memutuskan silaturrahim”. Salah seorang sahabat bertanya:  “Kalau bagitu  kami memperbanyak do’a (permohonan)!” Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Allah lebih banyak lagi (dalam mengabulkannya)”. (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Hakim).

Dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang yang buta matanya menemui Nabi, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada  mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka  Nabi saw bersabda, “Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat. Setelah itu, berdoalah (dengan mengucapkan): Allahumma inni asaluka wa atawajahu ilaika binabiyyi muhammadinni astasyfa’u bika ’ala robbi fii roddi bashori (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku menghadap kepada-Mu atas [perintah] Nabiku, Muhammad sebagai Nabi rahmat, wahai Muhammad, sesungguhnya saya meminta syafa’at kepada Tuhan-ku dengan dirimu agar Dia mengembalikan penglihatanku).”  Utsman bin Hunaif berkata, “Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan, maka lakukanlah seperti itu (shalat Hajat).” (HR Tirmidzi)

Sedekah, berbuat baik, menjalin silaturrahmi, shalat pada dasarnya adalah wujud pengorbanan yang menyelarasi doa. Mari kita belajar untuk menyelarasi doa-doa kita dengan pengorbanan-pengorbanan. Semoga Allah Swt mengabulkan hajat kita.



Comments

   Nancy on 7 July, 2008 at 14:57 #

Ass. wr.wb
Ap kbar Mas Imam ?? msh ingat ga ya sma nancy…hmmm, ikutan BQ dlu d’primagama…
mas dr uraian…diatas mo nanya klo b’sedekah krn ad ssuatu yg diingini bukannya niatan sedekahnya g murni lgi ya… trus klo qt mnghdapi suatu ujian dan qt sngt mnghrapkan doa qt d’ijabah…,ap itu slah ya ??? Trimkash atas jwabannya… slam bwt keluarga….


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments:
    Web blogdetik