Hilmy, selamat ya hidup di rumah baru.
Bersama ayah Ibrahim, yang tidak akan pernah memarahimu.
Jangan lupa seringlah datang mengunjungi ayah, ibu
serta adik-adik yang menyagimu.
Hilmy, jujur saja.
Kami bangga sebagai ayah ibumu.
Bangga denngan kebaikanmu.
Bangga dengan perjuanganmu.
Hilmy maafkan ayah, yang kadang memarahimu.
Tapi rasanya kebaikan ayah
jauh lebih banyak dari marahnya ayah kan?
Mungkin hanya 1% dari semuanya
Dan kamu juga tahu
semua itu ayah lakukan agar kamu
menjadi anak yang baik.
Hilmy, semoga kebaikan-kebaikan ayah dan ibu kepadamu
Perjuangan ayah dan ibu, mengantarmu
Membuat kamu bangga
Membuatmu mau memafkan kesalahan ayah dan ibu
Semoga kamu mau mengakui kami adalah orang tuamu
mensyafaati kami di hari yang sangat berat nanti
Hilmy pasti kamu senang bermain dengan kawan-kawan baru
Pasti kamu akan bertemu dengan Nabi Muhammad
yang sering kamu tanyakan pada ayah dahulu
Pasti kamu akan bertemu dengan Nabi Ayyub idolamu
Serta bertemu dengan Billal bin Rabbah yang kamu kagumi itu
Oh ya, Hilmy
Jangan lupa sampaikan salam buat semua teman barumu
salam pula buat Allah yang lebih mengasihimu
Sampaikan kalau ayah dan ibu, ingin masuk surga sepertimu
kemarin (6/5/08) saya mendapatkan informasi sedikit detail dari Mba Yenni mengenai perjuangan Hilmy selama 8 bln terakhir, melawan penyakit tumor yang ada dikepalanya….
saya juga merasa bersyukur pernah bertemu dan ngobrol dengan Mas Hilmy…
Beliau anak yang baik, sopan dan pengamatan saya, Mas Hilmy sabar dan tenang, jauh dari kebiasaan kebanyakan anak seumuran dia….
Semoga Allah SWT, menempatkan dibarisan orang-orang yang dicintaina…
Selamat Jalan Hilmy, semoga Ayah, Ibu, adik-adik Hilmy, Om Bastian dan keluarga bisa menemui Mas Hilmy di barisan Muhammad SAW, Ibrahim dan orang-orang kebanggaan Allah SWT, Amin
Masjidku Hatiku, langsung muncul di icon firefox saya begitu saya klik url blog Mas Imam. Koneksi internet yang sedang lambat membuat saya terus melihat ‘jargon’ Mas Imam itu. Terbayang memakmurkan masjid, memakmurkan hati…
Mulai muncul tulisan-tulisan Mas Imam, saya lewati satu persatu, rasanya pernah baca artikel-artikel tersebut. Mata saya tertegun, tangan saya berhenti menggerakkan mouse membaca, “Selamat Jalan Hilmy Sayang”. Saya baca kembali puisi-puisi hati Mas Imam untuk Hilmy tersayang. Sungguh bangga mempunyai saudara seperti Mas Imam. Sungguh bahagia mempunyai ponakan setabah Hilmy.
Sungguh beruntungnya saya bisa menyaksikan ‘pesan dari surga’ ini. Alhamdulillah…. Hatur nuhun Mas Imam sudah kembali mengajak hati saya untuk bertafakkur melalui tulisan-tulisan Mas Imam. Semoga Hilmy membukakan pintu surga untuk orangtuanya, amiiin…. Selamat jalan Hilmy sayang….
Terimakasih Om Bastian dan Om Yosep, semoga Hilmy kelak dapat menjadi penolong kami di Yaumil Akhir nanti.
Ass…Wr..Wb…
Maaf ya mas… baru tau nih blogx…
terakhir ketemuan hilmy sebelum pindahan yaa…sy tdk tlalu mngenal hilmy yg sy kenal malahn de fia…
tp kabar hilmy sy pantau melalui sahabat2 disekre…. hxa bisa mendoakan smoga mas+mba’ yeni diberi kekuatan mnerima semuax dan smoga harapan mas terhadap hilmy jga mnjadi harapan saya dan kita semuax..amin…
slamat jalan sayang……
Salam…..
Dulu sebelum jadi salik saya sempat mampir kerumah Mas Imam… saat itu Mas sedang marah sama anak sempat terbersit dalam hati kok Mas Imam marah sama anak kejam amat. saya pernah melihat orang tua marah sama anak tidak seperti itu sesaat kemudian dr. yenni datang membujuk…menenangkan.
Mas Imam …..
saat ini setelah tiga tahun jadi salik saya baru mengerti kenapa Mas…. berbuat demikian kepada anak…
Sungguh Mas sangat beruntung mempunyai anak seperti Hylmi semoga ia memberi syafaat kepada Mas Imam & dr. Yenni dihari yang sangat berat nanti .
Salam..
Mas Syamsul, terimakasih. Satu hal yang membuat saya ’sulit’ melupakan Hilmy adalah rasa bersalah telah melakukan beberapa hal bodoh kepadanya. Rasanya sangat-sangat menyesal telah ‘memarahi’-nya dalam beberapa kesempatan.
Saya tidak banyak memarahinya selama hidupnya, namun sungguh hal tersebut membuat saya merasa bersalah dan berdosa.
Semoga Allah mengampuni saya, Hilmy pun mau memaafkan. Semoga Hilmy tahu bahwa marahnya saya adalah untuk kebaikannya.
Semoga Allah memberikan rumah terbaik bagi Hilmy, dan Mas Imam diberi kesabaran…
Mas Imam, kenalkan saya adalah sahabat lama dulu di milis isnet. Saya selalu menyukai tulisan Mas Imam, yang selalu memakai nama Abah Hilmy.
Salam dari kami sekeluarga…
Mas Abu Afkar, terimakasih atas perhatian dan doanya. Terimakasih pula atas kesediaannya mampir ke masjid saya ini.
Saya mencoba mampir ke blog Mas Abu Afkar, tapi kesulitan untuk memberikan komentar ya?
Semoga Allah menautkan hati kita dalam kesabaran dan keridlaan. Salam dari Abah Hilmy.
Salam.
Ketika mendengar pertama kali mas Hilmy sakit, kami hanya bisa mendoakan disini demi kesembuhan beliau. Sungguh luar biasa perjuangan mas Hilmy dalam merima ujian berat itu.Sejak kepindahan mas Imam Ke Jawa, saya tidak pernah lagi ketemu mas Hilmy sampai ia menghempuskan nafas terakhir. Katika masih di Bosowa dulu, sering temanin maen bersama, jalan pagi bersama dengan mas Hilmy.Dan saya ingat juga bahwa mas Hilmy itu orangnya baik, orangnya susah makan nasi sampe dia diajarin untuk makan nasi, tidak seperti kebanyakan org pada umumnya makan nasi.Mas Hilmy hanya makan roti saja sebagai makanan pokonya kala itu.Namun setelah kepindahan Mas Imam saya tidak tahu lagi perkembangannya. Selamat jalan Mas Hilmy semoga di awal kehidupan yang sesungguhnya di alam sana mendapat teman2 baru dari orang2 saleh, dan menjadi anak sholeh.
Maafkan Jafar.
Wasalam.