Apr
18
Filed Under (Ma Femeli) by Imam on 18-04-2007

Hari selasa, 3 April 2008 Hilmy sudah bersiap-siap pergi ke sekolah. Ia biasanya bangun pagi sebelum subuh, dan mengisi pagi harinya menonton sendiri Spong Bop di Global TV.

Namun ketika akan berangkat sekolah, tiba-tiba Hilmy mual dan muntah. Makannya pun agak susah, karena ia terus merasakan mual. Panas badannya naik sedikit. Sehingga akhirnya kami membawa ke poliklinik untuk melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan. Siang hari darah Hilmy kembali diperiksa di Paramitha. Setelah pemeriksaan darah, kami ajak Hilmy makan bersama di McD Simpang. Ia senang luar biasa mendapatkan hadiah mainan “Ninja Turtles”.

Hasil periksa darah Paramaitha meunjukkan kondisi normal Hilmy. Ada sedikit indikasi ia mengalami types, namun tidak signifikan. Istri saya mengatakan, dengan jumlah demikian, di Indonesia belum dapat diputuskan ia sakit types.

Hari-hari berikutnya tiap pagi Hilmy mengalami pusing dan muntah-muntah. Sehingga ia tidak bisa ke sekolah. Kami kuatir Hilmy mengalami masalah psikologis dengan sekolahnya, sehingga setiap pagi selalu pusing dan muntah.

Hari Ahad tanggal 8 April 2007 kami ajak Hilmy, Fia dan Hanif jalan-jalan ke Carrefour Mollis untuk belanja bulanan. Kami sempat mampir ke California Fried Chicken, dan begitu gembira melihat Hilmy bersemangat makan. Hilmy mengatakan bahwa ia akan dapat pergi ke sekolah lagi pada hari Senin. Ia merasa sudah sehat dan baikkan. Alhamdulillah.

Namun pada hari Kamis pagi, ia kembali merasa mual dan muntah. Kejadian ini berulang kembali, sampai akhirnya pada hari Ahad tanggal 15 April 2008 kami membawa Hilmy untuk kembali di periksa di RS Santosa Bandung. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan indikasi normal. Dan akhirnya Hilmy kami bawa kembali pulang.

Senin pagi tanggal 16 April 2008, Hilmy kembali mual dan pusing.  Matanya berubah posisi, sehingga nampak agak juling. Mata kanan dan kirinya, tidak terkendali. Kasihan melihatnya. Melihat ini Ibunya menduga ada gangguan di otaknya.

Akhirnya Hilmy di rawat di RS Santosa. Ia meminta matanya ditutup dengan kasa agar tidak pusing. Dengan melihat badannya yang kurus, dokter menduga terjadi TBC pada Hilmy yang menyebabkan selaput otaknya terganggu. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Hilmy tidak mengidap penyakit tersebut.

Untuk diagnosa, dokter melakukan CT-Scan. Setelah dilakukan CT-Scan ternyata di kepalanya ada cairan yang lebih. Sekiranya ini terjadi saat bayi, ketika tulangnya masih belum keras, tentu kepala Hilmy sudah membesar. Hasil CT-Scan hanya memperlihatkan ada gumpalan sebesar telur burung puyuh di bawah otaknya. Belum jelas gumpalan apa ini.

Selasa tanggal 17 April 2007 dokter meminta untuk dilakukan MRI. Hasil MRI  memberikan imaji 3 dimensi, sehingga gumpalan tersebut lebih kelihatan bentuknya. Dokter menduga gumpalan tersebut adalah tumor. Dari dugaan dokter tumor ini sudah cukup lama, dengan terlihat adanya sel-sel mati pada tumor tersebut. Akibat tumor ini, saluran dari otak ke bawah tersumbat, sehingga terjadi kelebihan cairan di otak. Akibat cairan yang banyak menekan, menyebabkan si anak pusing dan saraf matanya terganggu.

Karena letaknya yang dibawah otak (ventrikel 3), maka tumor tidak mungkin dioperasi. Terlalu riskan kata dokter. Dokter lebih menyarankan untuk di pasang pipa (v-shunt) dari kepala ke perut, untuk membuang cairan yang menumpuk di kepala ke perut.

Dokter memberikan kesempatan kepada kami beberapa hari untuk mempertimbangkan langkah vp-shunt. Istri saya mencoba menghubungi beberapa dokter kenalannya untuk mendapatkan opini lain. Beberapa dokter menyatakan bahwa ada kemungkinan setelah dilakukan vp-shunt, tumor akan tumbuh pesat karena tidak ada penahannya.

Dari berbagai bertimbangan tersebut, akhirnya kami memutuskan belum akan mengambil langkah vp-shunt untuk Hilmy. 



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments:
    Web blogdetik