Mar
29
Filed Under (Tanya Jawab) by Imam on 29-03-2007

quran2.jpgTanya:

Semoga Allah selalu memberi keselamatan bagi kita semua… Kenapa ayat-ayat dalam Al Quran tidak tersusun secara sistematis? Adakalanya ditemukan pokok bahasan yang melompat-lompat dalam satu surat. Bagaimana cara “meratapi” makna dari kitab suci ini dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al Quran? Salaam. [Wisnu Wijayanto]

Jawab :

Pertanyaan ini buat saya sangat penting. Saya pernah memikirkan hal yang serupa sekitar tahun 1996. Dalam pencarian saya untuk mengurai kerumitan al-Qur’an, ada beberapa hal yang saya catat, yang mungkin bermanfaat untuk rekan-rekan sekalian.

Pertama

Al-Qur’an itu kitab suci, bersumber dari firman-firman Allah yang suci. Maka mustahil seseorang dapat memahaminya jikalau tidak suci pula. Hal ini berkait dengan firman Allah dalam QS 56:79: “Tidak menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang disucikan (al-Muthahharuun)”.  Tidak menyentuh mempunyai maksud tidak memahami makna dari al-Quran.

Saat ini, sesungguhnya al-Qur’an berfungsi sebagai cermin yang diberikan Allah Swt untuk diri kita. Semakin sulit kita memahi al-Qur’an, maka ini merupakan indikasi bahwa semakin kotor hati kita. Dan semakin mudah kita memahami al-Qur’an, maka bermakna hati kita semakin bersih. Imam al Ghazali berkata: “Barangsiapa yang buta hatinya, maka ia tidak akan bisa memahami al-Qur’an kecuali kulit-kulitnya saja”.

Jika kita membaca al-Qur’an, sesunguhnya kita sedang bercermin. Dengan al-Qur’an kita bisa memperkirakan, apakah kita ini masuk dalam golongan disucikan ataukah kita masih termasuk dalam golongan yang buta hati.

Dalam sudut pandang yang lain, kita dapat melihat Al-Qur’an ini seperti alat tes buta warna.

Dahulu ada seorang rekan saya pernah ikutan tes buta warna sewaktu mau masuk seni rupa ITB.  Rupanya alat tes buta warna itu berupa berbagai bulatan warna yang disusun  acak namun membentuk pola tertentu. Rekan saya tersebut lulus tes buta warna.  Namun, suatu ketika, ketika ia mengantarkan adik kelasnya untuk ikutan tes buta warna, rupanya, sekian pola acak warna tersebut tidak tertangkap polanya oleh matanya. Dia tidak melihat angka atau jalur yang terbentuk dari warna-warna tersebut. Di situlah rekan saya tersebut baru tahu kalau bahwa orang buta warna seperti itu.

Nah, demikian pula Al-Quran. Tapi Al-Quran itu bukan alat tes buta warna, tapi alat tes buta mata hati. Kalau kita melihat Al-Quran masih sebagai sebuah kitab dengan ayat-ayat yang acak-acakan, maka itu sebuah pertanda kita masih buta mata hati. Namun, kalau kita melihat Al-Quran sudah sebagai sebuah kitab dengan ayat-ayat yang satu sama lainnya mengikat sangat kuat, sekuat mata rantai, maka itu berarti kita sudah tidak buta mata hati lagi. Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa al-Quran adalah matahari bagi mata batiniah kita.

Kedua

Perlu dipahami bahwa sebuah bacaan kita bilang “sistematis” (logis, rasional, masuk akal, dll.) jika bacaan tersebut masuk, klop, pas, fit, cocok, habis termakan “skema” fakultas pikir kita. Artinya jika al-Quran tersebut nampak bagi kita tidak sistematis, ini kemungkinan besar disebabkan karena al-Quran tidak klop dengan skema berpikir kita. 

Al-Qur’an bertujuan “mentransformasi” skema fakultas pikir kita itu (bahkan seluruh fakultas kedirian kita).  Jika kita membaca sesuatu yg “sistematis” (yang nyaman masuk selera skema pikir kita), praktis kita tidak belajar apapun dari bacaan itu (jangankan ter-transformasi oleh bacaan itu).

Contohnya seorang rekan saya lancar dan nyaman baca buku “The Tao of Physics”, ia sudah familiar dengan jalan pikir buku itu, jalan pikir argumen buku itu klop dengan skema pikirnya: maka praktis, ia tidak belajar apapun (yang baru, mendasar, ground-breaking, transforming knowledge) dari buku tersebut. Jikalau pun ia “merasa” belajar dan dapat sesuatu dari buku itu, itu sekadar justifikasi skema kerdilnya yang tidak dapat pelajaran apapun dari buku itu.

Ketahuilah bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia sebagai syifa (obat), salah satunya adalah obat untuk membenahi serta menstrukturisasi akal pikiran kita. Tanpa sadar, karena kehidupan dan pendidikan yang kita terima, menyebabkan sebagian besar orang -jika tidak dikatakan semua- berjalan mendekati-Nya dengan membawa waham-waham (persepsi yang keliru). Dengan al-Qur’an, waham-waham kita ditata ulang. Apabila akal pikiran kita telah terstrukturisasi dengan benar, maka akan menyebabkan kita dapat menghadapi hidup ini dengan baik, dan kelak mengantarkan kita pada pengenalan kepada Allah.

Ketiga

Kita sepakat al-Qur’an adalah panduan detil bagi manusia untuk mendekati-Nya. Nah disinilah muncul persoalan; Bagaimana sebuah hal yang rumit, yang berkait satu persoalan dengan persoalan lainnya, yang melingkupi persoalan yang zahiriah dan bathiniah, di-detilkan dengan  menggunakan kalimat?

Saya melihat persoalan tidak ’sistematis’ ini, lebih dikarenakan al-Qur’an menjelaskan dengan detil sebuah hal yang rumit. Jangankan menjelaskan dengan detil perkara ‘Mendekati-Nya’ yang memiliki dimensi zahiriah dan bathiniah, untuk menjelaskan sesuatu hal yang sederhana dan hanya zahiriah saja kita seringkali kesulitan.

Coba bayangkan bagaimana sulitnya seseorang menjelaskan dengan kalimat verbal tentang bentuk sebuah motor dengan detil. Menjelaskan dari mulai bentuk dan lekuknya, sampai skrup mesin. Tidak terbayangkan pula bagaimana seseorang akan sulitnya menjelaskan tentang madu yang memiliki rasa dan bentuk, dalam penjelasan yang presisi.

Bagi kebanyakan orang, al-Qur’an nampak tidak sistematis karena terjadi sisipan-sisipan amtsal atau kisah dalam sebuah alur surat. Sehingga kesannya satu ayat dengan ayat lain, tidak nyambung. Sedangkan bagi kaum arifin tidak demikian. Amtsal-amtsal atau kisah-kisah ini bagi mereka terlihat sebagai bagian utuh dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Bukan penggalan-penggalan yang terpisah. Dengan amtsal atau kisah tersebut, sesungguhnya Allah Swt sedang menggambarkan suasana bathiniyah dari ayat sebelumnya dan mengaitkan dengan ayat sesudahnya.

Jika kita merujuk kepada QS 3:7, dimana dijelaskan adanya ayat muhkamat dan  mutasyabihaat. Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang sudah jelas maksudnya, dan bisa langsung dijalankan. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah sebaliknya.

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. 3:7)

Kerumitan, ketidaksistematisan al-Qur’an, sesungguhnya merupakan bagian ke-mutasyabihat-an al-Qur’an.  Berkait dengan ayat ini, dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt berkata :  “Barangsiapa melakukan apa yang diketahuinya, maka Aku akan mengajarkan apa-apa yang belum  diketahuinya”.

Dari ayat-ayat muhkamat inilah sebenarnya kita memulai untuk mencoba menyentuh al-Qur’an.  Karena dengan menjalankan yang muhkamat ini, kelak kita akan diajarkan atau diberikan kepahaman tentang ayat-ayat yang mutasyabihat, yang sering kita lihat sebagai hal yang melompat dan tidak sistematis.

Permasalahannya adalah dalam menjalankan yang muhkamat tidak boleh pilih-pilih. Kita benar-benar dituntut untuk menjalankan semua yang muhkamat. Contoh ayat yang muhkamat adalah perintah shalat, puasa, zakat, shadaqah. Mungkin kita sudah menjalankan ini. Namun ada pula ayat-ayat muhkamat yang lain, yang mungkin kita abaikan, seperti memaafkan orang lain, sabar, syukur, tawakal, dsb.

Nah memulai dengan menjalankan yang ayat-ayat muhkamat inilah semoga menjadi gerbang memahami yang lainnya. Dengan memulai menjalankan yang muhkamat, dengan hidayah-Nya, sedikit demi sedikit kita akan diberikan kepahaman tentang yang lainnya, sehingga kita akan melihat bahwa al-Qur’an ini sesungguhnya sangat sistematis dan tidak melompat-lompat.

Semoga kita beroleh rahmat dan taufik dari Allah Swt.



Comments

   barlian on 24 June, 2008 at 10:05 #

Assalamu Alaikum Wr Wb.
Mas Iman membaca tulisan tentang Beramal untuk orang lain, saya jadi ingin mendapatkan pencerahan lebih lanjut, pasalnya sekitar 1-2 tahun lalu, saudara ibu saya meninggal, waktu itu saya mendapatkan buku resep masakan beliau, eh ternyata didalamnya ada amplop yang berisi uang, nah uang itu saya masukkan kemesjid dengan niat untuk sadaqah tante saya tsb. malamnya saya bermimpi bertemu tante saya itu, saya bertanya apakah uang yang saya kirimkan diterima oleh tante saya, dan dijawabnya bahwa saya tak menerima apapun, karena disana maksudnya (di akhirat)kita sudah tidak bisa lagi menerima apapun jadi bila engkau ingin barang, bekal maka kamu kirim dari sekarang, sedekah dari sekarang semasa masih hidup, ntar disimpankan di sana. jadi. bukan nanti dikirimkan. itu jawabannya dan sayapun terbangun. saya merasakan bukan juga tidur pulas jadi antara tidur dan terjaga waktu saya mengalami pertemuan itu. mohon pencerahannya agar aku jadi nggak bingung nih. soalnya saat ini saya percaya dan yakin dengan yang saya alami dalam mimpi tsb.
wassalam


   Imam on 2 July, 2008 at 22:18 #

Waalaikumussalam wr. wb
Apa khabar Bu Berlian? Semoga baik-baik dan sehat-sehat.

Uang yang ibu masukkan ke dalam kencleng tentu saja tidak akan sampai kepada tante ibu. Demikian pula dengan puasa, haji, dsb.

Yang sampai kepada Tante adalah rahmat atau pertolongan Allah disebabkan oleh karena doa atau amal yang kita lakukan untuknya. Itupun apabila doa dan amal yang kita lakukan tulus ikhlas.

Demikian Bu, semoga tidak membingungkan.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments:
    Web blogdetik